Jumat, 06 Februari 2015

Mana kehangatan keluarga itu catatan keprihatianan kasus anak bunuh diri

Sungguh sangat melimpah karunia yang Allah berikan pada kita, kaum perempuan. Tak terkira, menyelami nikmat dan makna rasa hati seorang ibu. Sulit untuk dilukiskan dengan kata kata. Kebahagiaan itu. Saat mempersiapkan ananda melalui hari hari yang melelahkan untuk mengejar menyelesaikan berbagai urusannya. Bahagia… merasa dibutuhkan, gembira melihat senyum sumringahnya, terharu saat dari lisannya terungkap kata indah, “terima kasih ibu, jazakillah, telah menemaniku,
sehingga aku tidak bermalas untuk bergegas berangkat menyelesaikan urusan ini. Ibu, aku mencintaimu“. Tak kuasa menahan panas air mata yang mulai meleleh di pipi, yang sengaja disembunyikan, karena haru biru yang memuncak. Rasa pegal dan nyeri di kaki lantaran berjalan yang cukup jauh dengan sepatu yang agak kelonggaran serasa hilang disiram kalimat sejuk yang mengalir dengan tulus. Wahai para ibu, betapa sering kita menemukan momentum penting untuk menyelami hati ananda, seringkali terlewat karena ketidaktahuan kita, atau karena kepura-puraan terhadap kebutuhan ananda akan kasih sayang seorang ibu.



Sungguh miris mendengarkan kabar-kabar berita terbaru tentang anak-anak yang melakukan tindakan yang semestinya tidak perlu terjadi. Kita, para ibu, harus banyak introspeksi, adakah kita telah bisa mendampingi anak-anak kita melalui hari hari yang mungkin sulit dalam kehidupannya, sehingga mereka tidak merasa depresi. Dia merasakan kasih sayang, kelembutan, kepedulian dan belain cinta dan pelukan hangat hati ibundanya. Hal semacam ini yang mungkin sudah jarang ditemukan oleh anak anak di negeri ini. Sampai harus terjadi kasus kasus yang memprihatinkan. Sungguh sangat menyesakkan data, ketika kita mendapatkan data, bahwa tingkat bunuh diri anak-anak cukup tinggi, seperti disampaikan oleh ketua KOMNAS Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait. Rata-rata setiap 5 hari ada 1 anak yang bunuh diri. Astagfirullah…. mengerikan sekali. Salah satunya ada anak yang bunuh diri karena ibunya memarahi dia ketika susah disuruh mandi. Inilah realita memilukan yang terjadi di sekitar kita. Faktor kehangatan dalam keluarga, menjadi sesuatu yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya generasi yang sehat jasmani dan rohani. Keharmonisan hubungan ayah ibu, komunikasi yang sehat orang tua dan anak. Perhatian yang tulus dan doa doa indah yang senantiasa kita lantunkan, menjadi PR untuk seluruh keluarga Indonesia, untuk menghadirkan generasi mendatang yang berkualitas.
Sayangnya, kondisi keluarga yang demikian belum banyak kita temukan. Berbagai kendala yang terkait dengan kebijakan publik masih membayangi kehidupan keluarga Indonesia. Kesadaran moral dan agama para orang tua, seringkali digerogoti oleh berbagai tayangan media yang sering kurang mendidik, kehidupan yang menampilkan kekerasan, sikap hedonis, pergaulan bebas, konsumtif, mistis dan berbagai sikap yang bertentangan dengan nilai nilai keraifan keluarga Indonesia. Perlu aturan dan kontrol yang tegas dari pemangku kebijakan.
Di satu sisi, taraf ekonomi dan pedidikan anggota keluarga yang relatif rendah, seringkali juga menjadi pemicu keretakan keluarga dengan basis moral agama yang minim/rendah. Dari keluarga yang semacam ini sulit bagi seorang anak untuk bisa mendapatkan kehangatan keluarga yang dirindukan. Kebijakan menghadirkan program program yang bisa meningkatkan kesadaran moral dan agama, dan kebijakan yang banyak membantu meningkatkan taraf ekonomi dan pendidikan keluarga, mestinya menjadi sesuatu yang terus menerus kita perjuangkan menjadi prioritas.
Pada keluarga keluarga yang relatif mapan dari sisi pendidikan dan ekonomi, masalahnya seringkali berkisar pada kemandirian istri yang menjadi bablas sampai hilang hormat dan bangganya kepada suami sebagai kepala keluarga. Merasa sudah mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, dengan tingkat pendapatan yang boleh jadi melebihi pendapatan suami, akhirnya merasa tidak perlu lagi taat dan hormat pada suami. Ini menjadi awal ketidakharmonisan dalam keluarga. Keretakan keluarga, menjadi sesutu yang pelan tapi pasti, bahkan bisa berujung pada perpecahan/perceraian. Sejatinya, seorang suami telah diangkat oleh Alah swt untuk menjadi pemimpin bagi keluarga.
“Arrijaalu qowwamuuna alannisa…. Laki –laki adalah pemimpin bagi wanita“ (An-Nisa 34)
Sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai seorang ayah, sebagai orang tua, sebagai seorang guru, sebagai seorang pemimpin, sebagai anggota masyarakat dan sebagai apapun kita, adalah menjadi tanggung kita bersama untuk berkontribusi menghadirkan generasi yang berkualitas, pemimpin masa depan yang akan memakmurkan bumi ini. Pada posisi kita masing masing marilah berbuat yang terbaik sesuai tanggung jawab dan kapasitas kita. Niscaya kehidupan indah dimasa depan menjadi realita. Mulai dari sekarang, mulai dari yang dekat, mulai melakukan hal kecil yang bermanfaat. Wallahu a’lam. (usb/dakwatuna)

channel kita