Rabu, 18 November 2015

Cerpen Haifa 5 D "Sajadah untuk Bapak"

Kutatap tumpukan uang yang berjejer diatas meja kayu reyotku. beberapa kali pikiranku melayang kepada jilbab biru yang dipasang disebuah etalase Toko Pakaian yang sempat kulewati sepulang sekolah beberapa minggu yang lalu. Rasa inginku yang besar untuk memiliki jilbab itu, akhirnya menuntunku untuk  memecah celanganku yang terbuat dari bambu. Aku hanya bisa menatap sedih setelah kupecahkan celanganku tersebut, ternyata isinya tidak seberapa hanya recehan dan beberapa lembar seribuan yang tampak kumal.
Hufff.....Aku hanya bis,a menghela napas panjang. Kudorong mundur kursiku lalu bangkit dan keluar kamar dengan langkah lemas. Cukup Sudah ! Uangku tidak cukup untuk memenuhi harapanku membeli jilbab tersebut, akhirnya terpaksa aku melupakan keinginanku tersebut.
Kreeekk...Pintu kamarku yang sudah dimakan rayap terbuka, mencuri pandangan Bapak yang sedang meletakkan piring piring berisi lauk pauk diatas meja makan.
Aku hanya tinggal berdua dengan Bapak, sedangkan Ibuku sudah meninggal seja aku dibangku TK kecil akibat penyakit pneumonia yang terlambat ditangani.
"Eh, Ani sudah keluar, Yuk kita makan dulu, Bapak sudah belikan lauk nih.." Sapa Bapak sembari menata piring berisi nasi serta sayur oseng oseng kangkung.
Aku menurut saja, lalu segera berjalan menuju meja makan dan menarik kursi didekat Bapak.
Sembari makan, lagi lagi pikiranku melayang kepada jilbab biru dan uang recehanku yang masih kurang. Tatapanku beralih pada Bapak yang sedang menyendokkan sesuap demi sesuap nasi kedalam mulutnya.Akankah bapak memperbolehkanki jika aku mengutarakan keinginanku tentang jilbab itu. Kembali aku tatap wajah bapak. Kerutan wajahnya cukup untuk menggambarkan betap berat beban Bapak saat ini. Mengingat bapak yang hanya pemungut sampah dengan gaji yang tidak menentu. semua itu membuatku ingin bungkam, tapi entah kenapa keinginanku tak bisa dikendalikan, sebelum akhirnya aku benar benar mengatakan hal yang sebenarnya kepada Bapak
"Bapak" panggilku liirih
Bapak menoleh kepadaku, "Ada apa?" tanya beliau
"Bulan lalu, Ani lihat jilbab bagus di toko Seberang, Tapi uang tabungan Ani nggak cukup, Jadi..." pinta Ani. Bapak masih melanjutkan makannya
"....Apa mau, Bapak belikan jilbab itu buat Ani?" lanjutku

channel kita